Ticker

6/recent/ticker-posts

Pendidikan Multikultural|Benteng Kokoh Membendung Radikalisme

Kita dilahirkan di sebuah negeri, ibarat sebuah rumah besar yang terdiri dari satu ruang tamu dan beberapa kamar etnisitas, baik etnisitas berupa agama, suku dan unsur etnisitas lainnya di dalamnya. Di dalam kamar masing-masing, setiap etnisitas berimprovisasi, berinovasi dan berkreasi melahirkan inovasi untuk memperkuat kehidupan yang lebih baik bagi individu dan kelompoknya, namun ketika mereka berada di ruang tamu dimana tertulis semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, semua harus berusaha untuk membahagiakan semua orang yang ada di rumah besar Indonesia. aswandi|untan.ac.id

Charles  Fourier, seseorang socialist Prancis mengatakan, “Kami mau membangun satu dunia yang di dalamnya setiap orang hidup bahagia”, dikutip dari Daoed Yoesoef (2006)dalam bukunya “Dia dan Aku”.

Aksi Intoleran dan Radikalisme Cermin Generasi Lemah

Namun sungguh sangat disayangkan, kebahagiaan yang diangankan seakan semu akibat oknum yang mengatasnamakan agama dan alergi dengan perbedaan padahal kita tahu semboyan bhineka tunggal ika meniscayakan itu. Penyerangan terhadap rumah ibadah contoh fenomena alergi perbedaan.
Belum lagu rentetan peristiwa pengeboman baik itu di Makassar ataupun penyerangan di mabes polri, hingga aksi koboi gerombolan yang mengaku perwakilan forum umat islam medan baru baru ini oleh oknum yang mengatasnamakan agama, dapat kita tarik benang merah, bahwa dalam benak para pelaku mereka tengah memperjuangkan agama dan kebenaran semu yang mereka yakini, mereka tidak sadar bahwa mereka itu korban kebodohan dan kedunguan, dan saya tegaskan bahwa motif mereka melakukan kekerasan atas nama agama itu menunjukkan pemahaman agama mereka lemah.  Hal ini termasuk yang ditakutkan oleh alquran sebagai generasi yang lemah, yaitu lemah pemahaman, sebab mispersepsi makna jihad juga bagian lemah pemahaman (dzurriyatan dhi'afan) seperti tercermin dari qs.annisa:9, sehingga mudah terpancing oleh pendoktrin sesat yang  menanamkan kebencian di otak para pelaku bahwa perbedaan adalah kafir dan halal darahnya, bahwa polisi adalah musuh karena menangkapi kawan kawan mereka yang berideologi radikal. 
Dari sini kita bisa tarik kesimpulan, mereka para pelaku teror tidak siap menerima perbedaan hingga akhirnya bersikap intoleran dan radikal.

Tulisan ini saya tulis untuk menyikapi aksi aksi radikalisme kekerasan sebagai jalan pintas memperjuangkan idealisme dan ideologi yang salah dan keliru, serta merasa prihatin dengan ditemukannya fakta bahwa notabene para pelaku adalah para pemuda-pemudi bunga bangsa yang seharusnya menjadi penerus cita cita perjuangan bangsa indonesia. 

Penulis menengarai ada yang salah dengan pola pendidikan mereka. Lalu apa yang salah dengan pendidikan mereka sehingga lemah iman, ilmu dan pemahaman agama lebih lebih kebangsaan, sehingga mudah tergoda rayuan para pendoktrin sesat yang menanamkan di otak mereka bahwa mereka para pelaku tengah memperjuangkan agama..? 

Tanamkan Bahwa Kehidupan berbangsa dan beragama adalah satu kesatuan yang utuh !

WASPADAI 3 PERTANYAAN INI!

Saya yakin di otak mereka para pelaku teror bom dan penyerangan aparat, menganggap bahwa agama dan falsafah negara adalah bertentangan. Mereka beranggapan bahwa negara agama lebih baik dari negara bangsa dengan kemajemukan, bahwa alquran lebih baik dari pancasila. 
Maka waspadalah para orang tua dengan 3 pertanyaan ini, pertanyaan yang sepintas benar namun sebenarnya 'menyesatkan'. Jaga anak anak kita..pantau terus..Bahaya teroris mengincar anak anak kita..😭😭

Saya beri contoh cara dan strategi para teroris merekrut calon anggota baru sangat simpel namun berakibat fatal, terutama anak-anak remaja yang baru belajar agama Islam dan masih lemah fondamen pemahamannya. 

Coba kamu jawab.. 
"Lebih baik mana Al-Quran dan Pancasila,” tanya pendoktrin kepada para  target korban indoktrinasi. Korban itu pasti menjawab,  “Al-Quran…”

Pendoktrin kemudian melontarkan pertanyaan lagi, 
Lebih baik mana Nabi Muhammad dan Pak Jokowi.” Para korbam langsung menjawab, 
Nabi Muhammad...”

Lebih baik mana antara negara Islam dan negara kafir,” tanya pendoktrin lagi. 
Para korban menjawab, “Negara Islam.”

“Nah, dengan jawaban-jawaban itu target korban tanpa terasa sudah terpengaruh dan masuk jaringan teroris,”  Kenapa..??? “Karena pertanyaan-pertanyaan seperti itu seharusnya tak perlu dijawab karena tidak selevel. Itu pertanyaan-pertanyaan salah. Masak Al-Qur’an dibandingkan dengan Pancasila. Masak Nabi Muhammad dibandingkan dengan Pak Jokowi,” kenapa pertanyaannya yang salah? Karena dalam ilmu logika membandingkan sesuatu itu harus yang selevel, itu baru namanya perbandingan.

Tapi itulah strategi para teroris untuk mengelabuhi dan menjebak mangsanya, terutama untuk menjaring anggota teroris baru. Dengan jawaban-jawaban itu,  para teroris itu lalu mengembangkan doktrin.

“Kalau lebih baik Al-Quran mari kita ganti Pancasila dengan Al-Quran. Kalau negara Islam lebih baik dari negara kafir, mari kita ganti negara Pancasila yang kafir dengan negara Islam. Kalau lebih baik Nabi Muhammad mari kita ganti Jokowi. Tujuannya kan agar kita membenci Pak Jokowi,”* kata Pendoktrin! 
Saat itulah otak anak-anak muda mulai tercuci secara tidak sadar. Ngeri..!!! 
Jadi itulah efek pemahaman keliru sebabkan orang tidak siap dengan perbedaan, apalagi di negeri yang majemuk ini, mereka mudah terjebak pada pemahaman intoleran dan radikalisme yang mengarah pada radikalisme

Membandingkan Sesuatu Harus Selevel

“Membandingkan sesuatu itu harus selevel. Misalnya al-Quran dengan Taurat. Kalau al-Quran dengan Pancasila kan tidak selevel,”. “Nabi Muhammad dengan Pak Jokowi juga tidak selevel. 
Nabi Muhammad itu dipilih langsung oleh Allah, sedang Pak Jokowi dipilih oleh manusia,” 

Menurut penulis, masih banyak pertanyaan menjebak lainnya yang dikembangkan oleh teroris. “Karena itu kalau adik-adik pelajar atau mahasiswa mendapat pertanyaan seperti itu jangan dijawab!" 

Dan juga kini para teroris dalam merekrut anggota baru tidak selalu dengan cara face to face atau tatap muka. Mereka memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. “Bisa lewat baca dan bisa lewat video,” maka itu biasakan anak belajar langsung dari guru bukan dari internet atau medsos..!

Karena itu mari kita mewaspadai seluruh kelompok-kelompok radikal dan intoleran. Sebab terorisme itu berawal dari sikap tidak toleransi (intoleran) dan tidak mau menghargai perbedaan antar bangsa dan budaya.  

Kehidupan Berbangsa dan Beragama adalah Satu Kesatuan yang utuh|Polemik Nasionalis-Agama Telah Selesai Pada Sidang BPUPKI

Banyak orang yang salah kaprah makna kehidupan bernegara dengan praktik beragama. Kehidupan berbangsa berdimensi agama relijius jika dilakukan dengan niat ibadah, karena pada hakikatnya segala hal mulia yang kita lakukan mulai dari kita bangun tidur hingga tidur kembali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridho Allah akan menghasilkan pahala yang besar. Penulis contohkan, yaitu ketika ada seseorang yang melanggar lalu lintas dengan tidak memakai helm.
Bagi orang yang berpikiran picik, tidak memakai helm tidak melanggar syariat, padahal memakai helm dan tidak melanggar lalu lintas adalah bagian dari ajaran islam, karena relevan dengan ajaran taat dan disiplin, sedang tidak memakai helm adalah oerbuatan melanggar hukum sekaligus syariat karena membahayakan diri sendiri Allah berfirman dalam Alquran:  ÙˆَÙ„َا ØªُÙ„ْÙ‚ُوا Ø¨ِØ£َÙŠْدِيكُÙ…ْ Ø¥ِÙ„َÙ‰ Ø§Ù„تَّÙ‡ْÙ„ُÙƒَØ©ِ (albaqarah:195). "Jangan jatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan."
Ada kelompok hti dan sejenisnya yang salah kaprah bahwa khilafah atau membuat negara dalam negara adalah satu satunya ajaran islam. Mereka seakan memaksakan bahwa ajaran islam itu hanya khilafah tahririyah, padahal ajaran islam itu banyak bentuknya, bahkan hal kecil seperti taat berlalu lintas itu juga ajaran islam, kegiatan bermanfaat dari kita bangun tidur hingga tidur kembali jika itu bermanfaat bagi lingkungan sekitar seperti menanam pohon, atau menyingkirkan duri dari jalan, bahkan ibadah kecil yang tak butuh modal seperti tersenyum itu juga bagian dari ajaran islam. Jadi kita ini semuanya ketika melakukan kebajikan meskipun dalam bingkai bernegara seperti taat lalu lintas memakai helm dan tidak melanggar marka jalan juga itu ajaran islam. Itulah kelompok separatis radikal, mereka mencoba menggiring opini muslim awam dengan kedok agama untuk tujuan separatis membuat negara dalam negara.

"Sidang BPUPKI yang membahas perumusan dasar negara diwarnai perdebatan kelompok islam-nasionalis, berujung pada kesepakatan dasar negara  pancasila. Jadi mereka sudah sepakat dengan negara multikultur bukan negara satu agama atau ras tertentu, jadi menuntut negara agama adalah menyalahi kesepakatan"

Yang padahal polemik antara kelompok islam yang memperjuangkan syariat dengan kelompok nasionalis telah selesai dengan disepakatinya Piagam Jakarta yang merujuk pada Piagam Madinah, kesepakatan multikultur antar komponen bangsa yang bisa bersatu dalam perbedaan dan kemajemukan. Lalu apalagi yang diinginkan? Jelas membuat negara dalam negara, jargon khilafah itu dengan sendirinya tertolak karena melanggar kesepakatan, bukan hanya di Indonesia, bahkan di semua negara bangsa atau arab saudi sekalipun! 

Radikalisme Terjadi Akibat Salah Asuhan Bukan Akibat Ketidakadilan

Kembali pada pembahasan awal bahwa aksi pengeboman dan kekerasan atas nama agama disebabkan oleh kesalahpahaman tau mispersepsi seseorang. Maka yang harus bertanggung jawab adalah guru atau mentor yang berkontribusi meracuni pikiran si korban sehingga menjadi radikal. Jadi radikalisme dan aksi terorisme itu terjadi bukan karena ketidak adilan, jika ada politisi atau 'ulama' yang mengatakan bahwa hal itu terjadi sebab ketidak adilan maka ini adalah ciri ulama atau politisi khawarij, sejarah memang selalu berulang, karena hanya orang takabur yang mengatakan hal demikian, merasa diri lebih dari yang lain, hal ini tercermin dalam pemahaman bias khawarij dzul khuwairiz, dalam bahkan dalam sejarahnya hanya khawarij angkuh yang lancang mendebat Nabi saw dengan menyebut Nabi tidak adil. Dan jika benar alasan mereka mengatakan bahwa terorisme terjadi sebab ketidak adilan kenapa harus rumah ibadah yang diluluh lantakkan? Bukan para Koruptor yang sudah merampok dan menghisap uang rakyat? 
Jadi jelas alasan terorisme akibat ketidak adilan ini adalah alasan yang ngawur! Pendeknya terorisme itu terjadi bukan karena ketidak adilan namun sebab salah asuhan, salah berguru kepada guru guru yang mutabar, selain itu punya sanad silsilah keilmuan yang jelas. Karena mereka akan mengajarkan kita jalan jalan kebenaran, jalan jalan hikmah, jalan ajaran agama yang penuh rahmat, islam yang indah yang senantiasa merangkul bukan memukul, membina bukan menghina, mengajak bukan mengejek islam yang penuh sikap menenggang terhadap perbedaan, islam yang toleran dan tidak mudah terpancing oleh agitasi murahan para pengasong khilafah atau penyokong radikalisme, juga selalu men-SARING sebuah info yang ia terima sebelum men- SHARING nya, sebab di era disrupsi globalisasi ini tidak semua  info layak untuk dishare.. banyak sampah hoax, fitnah dan agitasi murahan di sana.

Sebab dari itu perlu ada lembaga yang memantau pergerakan para penceramah dan dai di mimbar mimbar. Sebab ada oknum ulama yang terus menginjeksi ke dalam otak umat racun perpecahan dan radikalisme, oknum ulama yang selalu menggembar gemborkan ke dalam ruang beragama sebuah drama ketidak adilan oleh penguasa, bahwa penguasa menzalimi umat islam dan ulama. Ini persis yang dilakukan khawarij. Mendekonstruksi makna keadilan lalu menggiringnya ke arah radikalisme, pemahaman beragama yang sempit.. 

Menuntut Ilmu Hukumnya Wajib|mati dalam belajar hukumnya syahid

Di dalam literasi agama, menuntut ilmu adalah wajib dan orang mati dalam rangka menuntut ilmu, maka ia mati syahid, namun pertanyaannya, menuntut ilmu yang bagaimana dulu?  
Maka penulis menyarankan para penuntut ilmu harus menuntut ilmu yang benar, oleh karena itu penuntut ilmu tersebut harus berguru pada guru yang benar jika ingin arah ilmu itu menjadi benar dan terarah. Namun jika menuntut ilmu dengan guru yang salah, alih alih mendapat derajat syahid, justru derajat sangit yang didapat.
Simak juga : 

Lihatlah para teroris korban indoktrinasi oleh guru yang salah, mereka banyak yang mati sangit. Karena ilmunya sia sia. Prinsip ilmu yang seharusnya menjadi pelita dalam kegelapan, dan hidayah bagi kebodohan menjadi kabur dengan indoktrinasi dari guru yang salah, oleh sebab itu sebenarnya Mereka adalah golongan orang yang mencari kebenaran namun gagal!  Imam Ali kwh mengatakan bahwa golongan penuntut ilmu yang demikian ini ialah golongan orang yang tidak berilmu dan tidak tahu serta tidak sadar bahwa dirinya tidak berilmu alias bodoh jahil murakkab, golongan orang tidak tahu dirinya bodoh rojulun laa yadri annahu laa yadri, ia menjadi target bagi para guru yang salah, bahkan ia dan gurunya sama sama dalam golongan pencari kebenaran yang gagal ! 

Pendidikan Multikultural|Benteng Kokoh Bendung Radikalisme

Dikatakan, “Jika suatu peradaban tetap dapat bertahan, maka kita harus mencapai puncak ilmu tentang hubungan antar manusia agar bisa hidup bersama dalam dunia yang sama dalam perdamaian”, demikian seorang negarawan Franklin D. Rosevelt. Ditambahkan, “Kita harus belajar untuk hidup bersama sebagai saudara atau binasa bersama sebagai orang-orang bodoh dan tidak ada diantara kita yang lebih pintar dari pada kita semua secara keseluruhan”, demikian David Lewis. Orang-orang menjadi kesepian karena mereka membangun tembok, bukan membangun jembatan.

Dengan bermodalkan multikultural atau “Bhinneka Tunggal Ika”, semestinya bangsa ini telah menjadi bangsa yang berkemajuan. Kenyataannya, sudah 74 tahun bangsa ini mereka, namun masih banyak rakyat yang belum sejahtera hidupnya, kualitas SDM masih perlu ditingkatkan, kehidupan bermasyarakat belum sepenuhnya merasakan aman dan nyaman, lebih lebih dengan rentetan aksi terorisme dan penyerangan terhadap kelompok yang berbeda baru baru ini, baik itu teror bom, pengeboman rumah ibadah, penyerangan terhadap markas kepolisian, aksi demo berjilid menurunkan gubernur yang beda agama, penyerangan dan intimidasi terhadap kaum minoritas syiah dan ahmadiyah, hingga pembakaran rumah ibadah di tolikara dsb, keamanan dan kenyamanan itu seakan menjadi barang yang mahal dan langka di negeri multikultur ini.

Maka menjadi relevan untuk dikaji, apa yang dikatakan Yudi Latif (2011) dalam bukunya “Negara Paripurna” mengatakan bahwa “Mayoritas penduduk masih percaya pada Tuhan, tetapi moralitas Ketuhanan itu sendiri masih terlepas dari praktik politik. Kehidupan politik disuburkan oleh nilai-nilai rendah, kurang menumbuhkan nilai-nilai luhur”.

Pluralistik, multikulturalistik dan keberagamaan agama sebagai nikmat dan rakhmat dari Allah SWT yang semestinya wajib disyukuri belum menjadi landasan dalam kehidupan bersama, benturan atau konflik antar etnis ataupun intimidasi terhadap kaum minoritas masih sering terjadi, sekalipun berbagai model resolusi konflik telah ditawarkan, bahkan riset  membuktikan bara api konflik di kalangan generasi muda atau generasi penerus bangsa ini masih bermasalahOlaf Schuman mengingatkan bahwa “Konflik bernuansa agama jangan sampai terjadi, karena konflik bernuansa agama tersebut adalah yang konflik yang sangat sulit diselesaikan”. Yang menjadi masalah kemudian adalah merebaknya fenomena oknum pemuka agama yang meracuni pemikiran umat dengan agar benci pada pemerintah, dan menanamkan narasi bahwa umat islam atau ulama tertentu dizalimi, atau merebaknya isu suriah dimana ditanamkan narasi tanpa fakta dan data bahwa Basar Asad itu Syiah dan membunuhi kaum sunni, oleh karena itu harus harus dilawan dan diintimidasi. Doktrin sesat inilah yang menurut penulis menjadi cikal bakal radikalisme dan aksi kekerasan atas nama agama yang mereka cerna menjadi suatu ajaran dan membangun pemahaman yang salah(mispersepsi). Tujuannya adalah satu, mengoyak jalinan kebangsaan yang sudah dibangun dan dicontohkan oleh para founding fathers kita dahulu.

Upaya membangun kerukunan umat beragama selama ini, baru sebatas pada permukaannya, bersifat seremonial dan penanaman nilai pluralistik masih bersifat semu, belum terinternalisasi ke dalam pikiran, sikap dan perilaku setiap anggota masyarakat.

Menurut penulis, internalisasi nilai persatuan akan efektif dilakukan melalui pendidikan multikultural.

Pendidikan multikultur merupakan proses yang tujuan utamanya adalah mengubah struktur sosial masyarakat melalui pengubahan kultur sekolah yang diisi oleh beragam etnis maupun kelas sosial (Alkin, 1992). 

5 Dimensi Pokok Pendidikan Multikultural

Ada 5 (lima) dimensi pokok dalam pendidikan multikultur, yakni: (a) content intergration, (b) knowledge construction process, (c) prejudice reduction, (d) equity pedagogy, dan (e) empowering school culture (Banks, 1989; 1991; 1993; 1997). 

1. Integrasi isi (content intergration) berkenaan dengan upaya-upaya guru untuk memasukkan informasi ke-etnis-an dalam pembelajaran, seperti memberikan contoh, data, maupun informasi dari berbagai kebudayaan ras, etnis, ataupun mazhab  sebagai ilustrasi dalam menjelaskan konsep-konsep kunci dari mata pelajaran yang diajarkan.

Isi pesan multikultur ini masuk dalam semua mata pelajaran, meskipun mungkin untuk mata pelajaran tertentu seperti IPA maupun matematika tidak pada semua pokok bahasan. Pada matematika misalnya, anak dari berbagai etnis dapat dikenalkan etnomatematika dan anak dididik untuk saling menghargai perbedaan konsep matematika dengan anak dari etnis yang berbeda dengan dirinya. Pada mata pelajaran IPS terlebih-lebih lagi Kewarga-negaraan, tentu isi pesan multikultur menjadi lebih memadai.

2. Proses konstruksi pengetahuan (knowledge construction process) berkenaan dengan prosedur bagaimana guru membantu siswa memahami materi pembelajaran dan bagaimana posisi individual dan kelompok etnis/ras dan kelas sosial berpengaruh terhadap upaya memahami materi tersebut. Dalam kaitan dengan proses konstruksi pengetahuan ini, Slavin (1985) menyarankan untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative-learning).

3. Dimensi pengurangan prasangka sosial (prejudice reduction) dalam pendidikan multikultur berkenaan dengan karakteristik sikap rasial siswa dan strategi-strategi yang dapat digunakan untuk membantu mereka menumbuhkan sikap dan nilai-nilai yang lebih demokratis. Strategi pembelajaran yang mungkin dapat digunakan adalah strategi-strategi pembelajaran yang lebih banyak menekankan aspek kerjasama antar etnis, dan penghargaan terhadap perbedaan etnis serta analisis nilai atau internalisasi nilai.

4. Dimensi keadilan pembelajaran (equity pedagogy) berkenaan dengan upaya guru memfasilitasi berbagai kelompok etnis atau kelas sosial agar mendapat kesempatan yang sama dalam perolehan pembelajaran. Diskriminasi pembelajaran tidak boleh terjadi karena semua anak harus mendapat peluang yang sama untuk mendapatkan pembelajaran sesuai dengan kapasitas dirinya.

5. Sedangkan dimensi pemberdayaan kultur sekolah (empowering school culture) berkenaan dengan proses merestrukturisasi kebudayaan dan organisasi sekolah agar siswa dari berbagai etnis dan kelas sosial yang beragam itu kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kategorisasi dimensi pendidikan multikultur ini tidak mutual exclusive, boleh jadi ada dimensi yang tumpang tindih. Namun pengkategorisasian seperti ini sangat dibutuhkan untuk mempermudah konseptualisasi pendidikan multikultur.

Semua unsur-unsur tadi harus terlibat dalam membangun iklim multikultural di sekolah. Dalam kaitan dengan itu, semua unsur yang ada menjadi contoh multikultural yang dapat ditiru oleh anak didik di sekolah  

Pena : Alwi Sahlan 

Foto inset: penulis bersama Kh Marzuki Mustamar, pengasuh Ponpes Gasek Malang, Ketua PWNU Jatim

Penulis adalah pemerhati sosial-budaya, pegiat pendidikan dan digital literasi, pengajar di sejumlah lembaga dan yayasan pendidikan. Alumni Magister STKIP Arrahmaniyyah Depok