Gardanews.my.id - Kita sudah 75 tahun merdeka, tetapi belum merasakan manisnya kemerdekaan yang hakiki. Apa sebab?? Karena kita sudah jauh dari ajaran dan nilai nilai keimanan serta ajaran dan nilai nilai pancasila. Alquran dan pancasila hanya kita baca tanpa kita bumikan dalam implementasi kehidupan. Mayoritas dari rakyat kita belum tersentuh dari apa yang namanya kemakmuran dan kesejahteraan, padahal dua hal ini adalah tujuan bernegara.. Yah, memang kita sudah tidak lagi mengalami penjajahan fisik, namun penjajahan secara maknawi dan bathin sejatinya masih berlangsung dikarenakan bangsa kita ini dirasa belum mampu memanifestasikan nilai nilai keimanan dan nilai nilai pancasila.
Berbicara tentang spirit keimanan ini, saya jadi teringat dengan quote atau ucapan Winston Churchill :
"Kuraslah Air Kolam, ikan Akan Mati Kekurangan Air..."!
Ini adalah quotes atau kutipan Winston Churchill Yang dianggap sebagai pahlawan Inggris .
Ia berdiri di dekat kolam depan Istana, dia dikelilingi ahli-ahli perang Eropa, lalu memerintahkan seorang prajurit untuk menangkap ikan di dalam kolam ..
Berkali-kali prajurit terbaik itu mencoba menangkap ikan, selalu gagal, dengan tangkas ikan selalu berhasil lolos ..
Setelah prajurit itu kelelahan karena sekian lama gak bisa menangkap ikan dalam Kolam. Maka Winston Churchill segera berdiri dan mengatakan bahwa ikan tersebut tidak akan bisa ditangkap dan dibunuh kalau berada dalam air ..
Segera prajurit mengambil gayung dan pelan-pelan mengeringkan kolam tersebut, memakan waktu lama tapi akhirnya ikan tersebut menggelepar, tinggal ditangkap dan menunggu kematiannya ..
Winston Churchill, sang Legenda Eropa itu mengatakan, " Muslim itu ibarat ikan, dan air kolam adalah ajarannya .. Selama mereka berada pada ajarannya, maka kita tidak bisa mengalahkannya .."
Winston Churchill melanjutkan, " Kita tidak akan bisa mengalahkan Muslim yang mengamalkan keislamannya .."
" Yang mengamalkan ajaran Islam dalam hidupnya .. Yang menjadikan mereka mencintai Tuhan dan Nabi melebihi cinta terhadap harta dunia, bahkan melebihi cinta terhadap dirinya sendiri ..
Dia melanjutkan, tapi untuk menghancurkan Islam itu mudah, " Keringkan air kolamnya ..! "
" Keringkan keimanannya, jauhkan dari ajarannya, jauhkan dari mesjid, jauhkan dari menteladani Nabi-nya .."
" Maka mereka bagaikan ikan yang kekeringan, menggelepar menunggu kematian .."
***
Respon Penulis
Dalam konteks kebangsaan saya rasa kutipan ini tidak ada salahnya. Bahwa bukan hanya umat islam saja yang akan pupus hancur jika air keimanannya dikuras, namun lebih luas lagi semua bangsa akan mudah dihancurkan jika keimanan yang merupakan akar jati diri bangsanya rusak. Karena memang ada benarnya bahwa mengalahkan sebuah bangsa adalah dengan mengendurkan spiriitual keimanan yang merupakan akar jati diri bangsa tadi, sebab keimanan itu adalah sumber kekuatan bagi ummat islam dan bangsa ini. Mereka para penjajah tidak akan menang menghadapi bangsa indonesia secara fisik dan frontal itulah sebabnya mereka merusaknya dengan cara budaya di mana mereka memasukkan unsur unsur hiburan dan musik gaya hidup yang membuai. Cara itu akhirnya berhasil membuai para generasi muda sehingga mereka lebih kenal dengan artis selebritis pejabat ketimbang nama sahabat.
Mereka lebih suka meneladani para artis selebritis itu kerimbang meneladani akhlak nabi agung.
Gegar budaya telah melanda seluruh daratan nusantara mulai dari sabang sampai merauke, mulai dari miangas sampai rote.. Semua ramai ramai membuat akun medsos, mencoba selfi welfi dan kegiatan kosong lain untuk membuang waktu ibadah mahdoh. Mereka tampil menjadi para penyembah keelokan diri sendiri karena kagum dengan kecantikan diri sendiri. Berhala berhala baru muncul di era globalisasi media ini, di mana yang jauh makin dekat karena jarak bisa diringkas hanya dengan video call, namun juga media mampu menjauhkan yang dekat ; seorang istri menchat suaminya mengutarakan isi hatinya di sebelahnya padahal jaraknya berdekatan, apa mungkin sang istri merasa canggung meminta jatah bulanan.. whats the..!!
Remaja putri dan irt berlomba lomba memiripkan diri dengan artis korea, dari ujung kepala hingga ujung rambut. Make up pemulas bibir, pipi kemerahan bak artis korea bahkan ada yang rela operasi ratusan juta demi untuk mendapatkan kecantikan semu. Walhasil tolok ukur kecantikan sudah bergeser menjadi kulit putih, pipi cembung, hidung mancung, mata belo bak sailor moon.. kecantikan inner beauty tidak lagi menjadi patokan gadis millenial.
Anak anak muda mengecat rambutnya mengikuti para idolanya artis, korea dan drakor menjadi tayangan wajib abg dan irt, sesenggukan menangisi pujaan hati di tv, alih alih menangisi dosa dosa dan kesalahan pribadi yang makin menggunung.. ya Robb..
Generasi Tanpa Identitas,
Mengikis Semangat Nasionalisme
Melalui arus globalisasi informasi yang masif, semua fenomena ini membentuk identitas sendiri, hal itu menyusup menerobos sekat identitas agama, suku, ras bahkan negara.
Para pemuja artis seleb ini membentuk identitas sendiri tanpa seleksi dari negara atau daerah mana. Mereka membuat komunitas komunitas dari berbagai negara. Alhasil semua mengaburkan sekat dan nilai nasionalisme. Mereka ga peduli lagi dengan semangat nasionalisme mereka yang anti budaya negatif. Yang penting adalah eksistensi kemapanan hasil copy paste..!
Kita ini apabila kehilangan keimanan maka akan kehilangan identitas, baik itu agama maupun negara. Disebabkan apa? Serangan masif budaya negatif tadi yang telah dikuras airnya yaitu air keimanan oleh para komprador kaki tangan kapitalis global pemodal berharap untung dari menghalalkan segala cara. Tak peduli cara itu merusak generasi muda dengan arus budaya, fashion, gaya hidup modern nan hedonis dan permisif tanpa disadari masuk ke relung hati kita yang harusnya diisi dengan keimanan dan keteladanan nabi agung saww..
Krisis Keteladanan
Di 75 th Indonesia merdeka ini bangsa kita mengalami krisis keteladanan akibat kehilangan iman sehingga goyah menyebabkan mereka kehilangan figur panutan, karena ketika melihat figur bangsa sekarang ini tidak ada lagi yang bisa diteladani mereka para figur bangsa elit politik sibuk berlomba lomba meraih kejayaan pribadi dan kelompok bagaimana rakyat mau mencari figur teladan jika elit politik sekarang gemar berkamuflase?
Padahal apabila kita melihat kepada laku hidup para founding father pendiri bangsa ini mereka memiliki laku hidup yang amat sederhana bahkan rela hidup melarat demi rakyatnya yang susah, Haji Agus Salim yang hebat dan terkenal itu masih hidup ngontrak, Kh Wahid Hasyim sang menteri agama pun rutin puasa senin-kemis demi memberi teladan kepada rakyat bahwa mereka itu berempati dengan penderitaan rakyat. Kisah kisah teladan inilah yang harus kita ceritakan kembali pada para generasi milenial agar mereka tidak limbung oleh dunia dan arus budaya impor yang hedonis dan permisif.
Akibatnya mereka kehilangan identitas dan jati diri sebagai bangsa berbudaya. Hal itu ditandai dari ketidakmampuan generasi sekarang memahami apa jati diri mereka sebagai bangsa patriot yang punya identitas..
Fenomena Apa Ini??
Takut Generasi Yang Lemah
Inilah yang penulis maksud, keimanan telah terkikis sebab impor budaya, dan masifnya globalisasi serta impor budaya menjadi tak terbendung. Hal ini disebabkan oleh tadi, yaitu masifnya budaya impor sehingga arus informasi tidak terbendung sehingga membuat anak muda kehilangan logika untuk menimbang dan membedakan mana budaya yang baik dan mana yang buruk, karena arus budaya itu masif dan spontan tanpa filter keimanan dalam dada maka masuklah sampah sampah budaya ke dalam ruang ruang kehidupan mereka yang labil dan masih lemah..
Alquran sudah mewanti wanti kehilangan identitas ini dalam alquran, Allah swt berfirman :
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya:“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9).
Maka inilah yang terjadi, yaitu terciptanya "generasi yang lemah" di segala bidang mulai dari keimanan hingga ekonomi, mulai dari akidah hingga teknologi semua lemah. Akibat apakah ini ? Yaitu akibat serangan masif dari luar bangsa kita belum siap bersaing. Dan dari dalam kurangnya edukasi dan pemahaman akan penanaman nilai nilai keimanan agama dan nilai jati diri bangsa. Jika dibiarkan terus berlarut larut kita akan kehilangan generasi generasi emas penerus bangsa. Karena semua pada rusak dibius oleh monster peradaban yang buas dan brutal tak kenal ampun merusak sendi keimanan dan identitas nasional.
Jika sudah demikian, tesis churchill memang menemukan pembenarannya karena 'air keimanan' itu tadi sudah dikuras dan akhirnya ikan ikan itu yaitu generasi penerus ini pada berserakan bertebaran menggelepar menggelepar sekarat kekurangan oksigen akibat kehilangan air keimanan dan jati diri tadi.
Khilafah Bukan Solusi, Setiap Negara Punya Kesepakatan
Tidak perlu membuat negara baru, tidak harus menyerang konsep negara bangsa demi syahwat politik berkuasa berdalih nash agama, karena negara ini negara kesepakatan(Darul Halli Wal 'Aqdi), kita tidak perlu membuat tatanan negara sistem khilafah yang belum terbukti, di republik ini sistem tsb bukannya ditolak tapi auto tertolak akibat kesepakatan antar sesama founding fathers atau para bapak pendiri bangsa.
Awas Jebakan Betmen ! Jangan Tertipu Bungkus !
Memanfaatkan ghirah keagamaan yang memuncak orang menganggap khilafah ini adalah sesuatu yang ideal, padahal khilafah ini adalah produk kepentingan politik tertentu yang tak menginginkan sistem negara bangsa yang merupakan suatu kesepakatan bersama, sebab itu Sihir khilafah jangan sampai memakan korban generasi muda yang awam nir keimanan sehingga mudah dicekoki doktrin sesat sistem bidah khilafah yang memanfaatkan ghirah kesantrian tadi yang sekilas terlihat islami, padahal merusak sistem negara bangsa yang merupakan kesepakatan seperti pernah dicontohkan nabi ketika mendirikan negara madinah, apalagi kondisi mereka yang notabene dari luar diserang budaya asing, dari dalam potensial digerogoti virus khilafah anti nkri tunai sudah kurasnya kolam 'keimanan islam indonesia' jika demikian, dari itu maka kita kudu menguatkan keimanan generasi yang lemah tadi dengan edukasi wawasan kebangsaan melalui bangku pendidikan, agar mereka ngeh dan sadar darimana dan di mana akar mereka berada. Yaitu indonesia negara bangsa yang memiliki kekayaan budaya mulai dari musyawarah, gotong royong, tenggang rasa, toleransi dan tepo seliro. Yaitu negara kesepakatan atau darul halli wal 'aqdi.
Saya ingat perkataan Bung Karno Tentang Trisakti, yaitu kita harus berdikari di bidang politik, ekonomi dan budaya. Memang akhir akhir ini kita kehilangan jatidiri budaya sebab masifnya budaya impor sehingga terjadi krisis identitas yang mengarah pada krisis keteladanan, alih alih mencari suri teladan yang baik mereka generasi muda malah terjebak pada budaya impor memuja artis selebritis yang belum tentu positif adaptif.
Alhasil mereka tidak mengambil segi positif dari budaya impor seperti etos kerja dan nilai kebaikan lainnya malah terjebak pada budaya hedonisme permisif yang membelenggu akal sehat..
Mereka generasi muda harus dididik mengenal siapa panutan mereka, teladan hidup mereka agar tidak gegar budaya, kaget dengan masifnya arus budaya impor, belum siap bersaing.
Itu akan menjadi basis dan dasar keimanan dan jati diri kita sebagai bangsa yang gemah ripah lohjinawi.. baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur pasti terlaksana..
DIRGAHAYU RI KE - 75
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
NKRI Harga Mati ! ✊✊
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩