Ticker

6/recent/ticker-posts

Perumpamaan Hidup dalam 3 Buah Tong Kayu|Agama Sebagai Sumber Nilai|Alwi Sahlan

 


Dari video di atas kita dapat diambil ibrah bahwa hidup itu seperti tiga buah tong. Memiliki bentuk yang sama, Terbuat dari bahan yang sama, berasal dari tempat yang sama, namun berbeda nasib hanya dalam isi yang ditempatkan ke dalamnya. Seperti itulah hidup. Tergantung bagaimana kita mengisinya.

Hikmahnya adalah, isilah hidup dengan hal hal yang positif, jangan diisi dengan hal yang negatif! Jika anda isi hidup dengan hal negatif, hidup anda akan merugi, bukan hanya merugikan diri sendiri mungkin juga orang lain. Dan sebaliknya anda akan menemui manfaat dan keberkahan lebih lebih untuk diri sendiri manakala hidup ini anda isi dengan hal hal positif. 

Syarah penulis:
Rasul saw bersabda: 
خير الناس أنفعكم للناس
Sebaik baik kalian ialah siapa yang paling berkontribusi manfaat dalam hidupnya. Menebar manfaat itu sederhana sekali. Bahkan hal kecil seperti menyingkirkan duri dan gangguan dari jalan الشوك والأذى merupakan kontribusi manfaat dan dihitung ibadah dan sedekah.. 

Sebab itu marilah kita isi hidup ini dengan hal yang bermanfaat. Hindarkan perselisihan dan fanatisme golongan. Dahulukan akhlak ketimbang fikih. Ambil esensi buang kulit, jangan berbuat baik kepada sso hanya kerena pamrih dan pilih kasih. Berbuat baiklah kepada siapa saja, meskipun kepada musuhmu dan orang yang engkau benci. Allah swt berfirman:
 لا يجرمنكم شنٱ قوم أن لا تعدلوا
Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berbuat tidak adil kepada mereka. Kebaikan bahkan kepada seekor anjing yang sangat hina sekalipun akan dinilai sebagai kebaikan pahala yang besar jika dilakukan karena cinta dan keikhlasan. 
Apalagi dalam konsep dimensi berbangsa bernegara, berbuat baik tidak butuh wadah formal, kapan, dimanapun kebaikan bisa ditebar. 
Sebab pada dasarnya, menjadi warga negara Indonesia yang baik adalah menjadi seorang muslim yang sejati. Karena berbuat baik itu tidak butuh wadah formal. Ia bisa dilakukan kapan, dimanapun.  Segala kebaikan yang anda lakukan selama bersumber dari nilai kebaikan sama halnya dengan bernilai agama, sebab agama manapun pasti berbicara tentang kebaikan, dan itu artinya anda tengah menerapkan syariat kebaikan, anda tengah bersyariah tanpa perlu koar menuntut ganti sistem karena konsep bernegara kita sudah final.  Jika agama adalah sumber nilai maka nilai kebangsaan dan persatuan kita jadikan tujuan dalam berbudaya, dalam bermuamalah sehari hari. Karena persatuan indonesia lebih utama ketimbang huru hara bernuansa sara.

Indonesia akan mampu bersaing dengan bangsa lain jika menjadikan agama sebagai inspirasi dan sumber nilai, sementara kebangsaan sebagai kiblat dalam kebudayaan."

#Alwi Sahlan 
Pegiat Sosial-Pendidikan, Alumni Magister PPKn STKIP Arrahmaniyah Depok